KABAR NASIDA RIA



 NEWS :BURSA MUSIK QASIDAH


NASIDA RIA YA NASIDA RIA

TEMBANG kasidah itu berkumandang di sebuah taman di Recklinghausen, Jerman. Pelantunnya sembilan perempuan berbusana muslim, berkulit sawo matang. Ratusan orang yang hadir tekun menyimak. Ada yang sambil berdiri, menenggak bir, atau sekadar duduk di rerumputan. Sejumlah bocah bergerombol di depan panggung, beberapa asyik bergoyang-goyang.
Meski barangkali asing dengan genre musik yang dimainkan, bule-bule itu terlihat apresiatif. Begitu tembang usai, mereka memberikan tepuk tangan panjang. Inilah suasana yang tergambar dalam video dokumentasi Nasida Ria saat tampil dalam Festival Heimatklange ‘96 Sinbad Travels di Jerman pada 1996. Video ini menjadi bukti betapa musik kelompok kasidah modern asal Semarang tersebut sanggup menembus sekat-sekat budaya, ideologi, bahkan agama.
Padahal, saat kali pertama dibentuk oleh HM Zain pada 1975, Nasida Ria punya segmentasi khusus. Mereka hanya menyanyikan tembang-tembang keislaman yang kental dengan nuansa padang pasir dan bersyair Arab.
”Pak Zain sengaja membentuk Nasida Ria sebagai sarana dakwah Islam. Dan saat itu, referensi lagu-lagu dakwah yang ada hanya dari Timur-Tengah,” ujar H Choliq Zain, General Manager Nasida Ria, yang juga putra kedua HM Zain.
Ya, HM Zain memang berobsesi melakukan dakwah Islam melalui musik. Sebelum Nasida Ria, ia pernah membentuk grup kasidah Assabab dengan personel campuran, laki-laki dan perempuan. Namun popularitasnya surut bersamaan dengan meninggalnya sang vokalis yang menjadi ikon Assabab, Juwariyah MA.
Nasida Ria yang kemudian dibentuk, seluruhnya beranggotakan perempuan. Mereka murid-murid pilihan HM Zain. Perlu diketahui bahwa Zain sesungguhnya adalah guru qiraah. Selain mengajar berkeliling, ia menampung remaja-remaja berbakat dari berbagai daerah di rumahnya, Kampung Kauman Mustaram.
”Nah, personel Nasida Ria diambil dari anak-anak yang belajar ngaji di rumah itu. Jadi mereka sebenarnya para qiraah,” ungkap Choliq.
Awalnya, Nasida Ria hanya menggunakan alat musik rebana. Namun karena seluruh personelnya perempuan dan punya kemampun vokal yang baik, grup ini cepat terkenal. Mereka pun banyak mendapat tanggapan.
Wali Kota Semarang saat itu, H Iman Soeparto Tjakrajoeda yang terkesan oleh penampilan Nasida Ria berkenan menyumbang alat musik organ. Ia juga memfasilitasi mereka belajar musik. Sejak itu, penampilan Mudrikah Zain, Mutoharoh, Rien Jamain, Umi Kholifah, Musyarofah, Nunung, Alfiyah, Kudriyah, dan Nur Ain jadi lebih tertata dan modern. Terlebih setelah mereka melengkapi diri dengan alat musik bas gitar, biola, dan gitar melodi.
Pada 1978, Nasida Ria meluncurkan album perdana. Album yang direkam oleh Ira Puspita Record itu masih kental beraroma Timur Tengah. Setelah itu menyusul tiga album lain yang sebagian besar juga mengusung lagu-lagu gambus berbahasa Arab.
Berbahasa Indonesia
Suatu ketika, HM Zain beroleh saran dari KH Ahmad Buchori Masruri agar Nasida Ria lebih banyak menyanyikan lagu kasidah berbahasa Indonesia. Ini, kata Buchori, penting agar pesan dakwah yang terdapat dalam lagu bisa lebih tersampaikan kepada masyarakat.
Tak sekadar saran, Buchori yang menggunakan nama samaran Abu Ali Haidar, juga menciptakan tembang-tembang berbahasa Indonesia untuk Nasida Ria. Salah satunya berjudul ”Perdamaian”. Bersama sejumlah tembang lain, lagu ini diluncurkan sebagai album kelima. Benar, respons masyarakat terhadap album ini luar biasa besar. Lagu ”Perdamaian” sangat populer, dan nama Nasida Ria pun mulai dikenal di seluruh Indonesia.
Sukses Perdamaian berlanjut ke album-album berikutnya. Lagu-lagu hit mereka seperti ”Pengantin Baru”, ”Tahun 2000”, ”Jilbab Putih”, ”Anakku”, dan ”Kota Santri”, digemari, tak hanya oleh masyarakat pedesaan, namun juga yang tinggal di kota-kota besar. Orkes kasidah modern ini mulai sering tampil di televisi. Jadwal pentas keliling pun semakin padat.
”Hampir seluruh wilayah di Indonesia sudah kami datangi. Bahkan kami juga pernah manggung di Hongkong, Malaysia, dan Jerman,” tutur Rien Jamain, personel Nasida Ria.
Selain personel yang seluruhnya perempuan, daya tarik Nasida Ria terletak pada konsep musik yang diusung, yakni kasidah modern. Kasidah jenis ini mendobrak kecenderungan musik kasidah yang kental dengan nuansa Timur Tengah. Bisa dibilang, Nasida Ria-lah pelopor kasidah modern di Indonesia.
Dengan konsep itu, lagu-lagu Nasida Ria cenderung lebih adaptif dan meng-Indonesia. Dari sisi musik, anasir padang pasir memang masih terasa. Itu karena para pencipta lagu Nasida Ria, mulai dari HM Zain, Ahmad Buchori Masruri, H Fadholi Ambar, Hadziq Zain, Mustaqin Ranis, Mutohar Asaad, Ismail Massech, Hasan Basri, hingga Asmyn Cayder, acap memodifikasi irama lagu gambus dari Arab dan Mesir. Namun penggunaan alat musik Barat, seperti gitar elektrik, biola, dan organ, menjadikan lagu-lagu itu punya ciri spesifik.
Warna lokal kasidah Nasida Ria semakin terasa dari penggunaan syair berbahasa Indonesia dan pilihan tema lagu yang lebih cair. Lagu-lagu kelompok ini tak lagi bertemakan dakwah dalam pengertian sempit. Mereka membicarakan soal pers (Ratu Dunia), ketimpangan hukum (Keadilan), bahaya perang (Perdamaian, Bom Nuklir), perjudian (Rayuan Judi), kerusakan alam (Lingkungan Hidup), hingga bencana (Tragedi Tsunami).
”Sebenarnya ini kan dahwah juga. Kalau dirunut, akarnya ada di Quran dan Hadist,” kata Buchori, yang mantan Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah.
Nasida Ria orkes yang amat produktif. Mereka banyak menelorkan album dan giat berpentas. Sejak kali pertama berdiri hingga saat ini, Mudrikah Zain dan kawan-kawan telah membawakan lebih dari 350 lagu. Lagu-lagu itu terbagi dalam 35-an album.
Personel Baru
Bongkar pasang personel mewarnai perjalanan Nasida Ria. Mereka yang mengundurkan diri atau meninggal diganti personel baru, antara lain Hamidah, Nurjanah, Nadhiroh, Afuah, Nurhayati, Siti Ronah, Sofiyatun, dan Titi Thowiyah.
Masa keemasan Nasida Ria berlangsung hingga tahun 1990-an. Selama itu mereka nyaris tak punya saingan. Saking dominannya kelompok ini, sampai-sampai masyarakat acap mengidentifikasikan musik kasidah dengan Nasida Ria. Memasuki tahun 2000, pamor Nasida Ria meredup. Meski demikian mereka masih terus menelorkan album dan melakukan pentas keliling. Album terakhir, Cahaya Ilmu, diproduksi tahun 2009.
Sejumlah penghargaan melengkapi cerita sukses Nasida Ria. Pada 1989, mereka meraih penghargaan Pengemban Budaya Islam dari PWI Pusat Jakarta, Tahun 1992 menerima Penghargaan Seni dari PWI Jawa Tengah, dan pada 2004 beroleh Anugrah Keteladanan 2004 dari PPP Jawa Tengah. Penghargaan dalam bentuk lain adalah dibawakannya lagu mereka oleh penyanyi terkenal, yakni ”Perdamaian” oleh grup band Gigi dan ”Kota Santri” oleh pasangan Anang-Kris Dayanti.
Kini, di tengah ingar-bingar industri musik Indonesia, nama Nasida Ria sayup-sayup terdengar. Mereka masih ada dan mengada di panggung-panggung hiburan yang tak terlampau gebyar.

Sumber : Mas Alul, qasidaria





Nasida Ria Qasidah Legendaris

Semarang, NU Online

Remaja sekarang, barangkali sering menyanyikan lagu Perdamaian yang dipopulerkan group musik GIGI dan lagu Kota Santri yang ditembangkan Krisdayanti. Dua lagu tersebut, merupakan rujukan dari lagu-lagu Kasidah Modern Nasida Ria Semarang yang hingga kini masih melegendaris.

Musik kasidah, awalnya muncul tahun 60-an ditandai dengan lahirnya grup musik Assabab dari Semarang. Juwariyah adalah penyanyi andalannya. Assabab yang dipimpin M. Zain ini senantiasa membawakan lagu-lagu Arab padang pasir. Grup ini tersohor dari pulau Jawa hingga Kalimantan.

Tahun 70-an, perkembangan grup musik sealiran kasidah semakin bermunculan, diantaranya di Sumatra muncul Grup Musik Kasidah Rebana dengan penyanyi yang sekaligus pimpinannya, Hj. Nur Asiyah Jamil. Di Jakarta juga lahir Kasidah Rebana pimpinan H. Muhamad Dong dan Grup Al Fatah pimpinan A. Rahmat. Sedangkan di Jawa Timur, tepatnya di Gresik muncul Grup Rebana Giri Nada milik Pemkab Gresik.

Cikal bakal Nasida Ria, juga berawal dari grup-grup rebana. Namun berkat inovasi dan kreasi dari M Zain, grup ini memiliki genre tersendiri. Ia memiliki ciri khas berupa artis dan musisi pendukung yang terdiri dari wanita berjilbab. Kalau Kasidah Rebana lebih dominan menyanyikan lagu-lagu irama padang pasir, Nasida Ria berkreasi dengan syair dan lagu berbahasa Indonesia.

General Manager Nasida Ria H Choliq Zain, menceritakan, Nasida Ria yang lahir 1975 merupakan musik kasidah modern pertama di Indonesia. Ditengah merebaknya musik Pop, Dangdut dan aliran Barat, Nasida Ria hingga kini masih bertahan. “Nasida Ria juga menguasai lagu-lagu berirama dangdut sebagai selingan show,” ujar Choliq kepada NU Online Selasa (22/7) di Semarang.

Dalam perjalanan Shownya, sudah beribu-ribu tempat disambanginya, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Diantaranya, setiap tahun mengisi Paket Acara Hari Raya Idhul Fitri di TMII (Taman Mini Indonesia Indah) Jakarta. Tour Show Silaturokhmi Djarum 76 di 16 Kota Jateng tahun 2001, 2002 dan 2004. Juga tampil dalam Islamic Art and Cultural Perfomance di Batam Kepulauan Riau 2004 dan Isro Miroj di Tanjung Pinang, Kepri (2006) serta berbagai tempat di seluruh pelosok tanah air baik dalam
rangka undangan hajatan maupun acara resmi lembaga pemerintah/swasta/yayasan.

Di Luar Negeri, Nasida Ria juga cukup dikenal. Pasalnya grup ini telah melanglang buana diantaranya memenuhi undangan kerajaan Malaysia untuk tampil dalam peringatan 1 Muharam tahun 1988. Selanjutnya, Nasida Ria tampil show di Berlin, Maret 1994 atas undangan Haus de Kulturen derWelt (Lembaga Kebudayaan Jerman) dalam paket Die Garten des Islam (Pameran Kesenian Islam Dunia).

Masih di Jerman, pada Juli 1996 delapan kali pentas dalam rangka festifal HEIMATKLANGE 96 ‘Sinbad Travels’. Kota yang disinggahi diantaranya Berlin, Reclinghousen, Dusseldof. “Lawatan kali ini atas undangan Cultural Departement of The Senat of Berlin and Tempodrom, SFB, ORB, European Forum of Worldwide Musik Festival,” ungkap Choliq.

Tidak heran kalau kemudian Nasida Ria kerap mendapatkan penghargaan atas prestasi yang telah dtorehkanya. Diantaranya, meraih penghargaan Pengemban Budaya Islam dari PWI Pusat Jakarta (1989), Penghargaan Seni dari PWI Jateng (1992) dan Anugrah Keteladanan 2004 dari PPP Jateng (2004).

Dalam setiap pentas, Choliq selaku manajer mematok harga untuk di daerah pedesaan Jawa Tengah setiap kali tampil Rp. 15 juta rupiah dengan durasi 2-3 jam. “Kami memakainya jam,” tawar Choliq.

Kepada yang berminat, bisa menghubungi Alamat Sekretariat di Jalan Raya Tugu 58 Telp 024-70151501 Semarang ini. “Ingin lebih jelas, silakan hubungi Saya di nomor 08122916432 atau 081575667778,” katanya. (Wasdiun)







SOLOPOST NEWS

Grup Legendaris: Nasida Ria

Semakin terlindas zaman, mungkin itulah nasib musik qosidah. Berbagi ruang dengan aliran musik baru, baik dalam maupun luar negeri, membuat musik ini lebih jarang terdengar.

Itu dibanding dengan masa kecilku dulu, saat hampir tiap hari terdengar musik qosidah, baik di rumah-rumah, di acara-acara tertentu, maupun di surau dan musholla. Sebegitu seringnya, sampai ada beberapa lagu yang lirik dan nadanya masih terpatri di otak hingga saat ini. Salah satu lagu favoritku adalah Tahun 2000 dan Kota Santri, dan masih hafal liriknya dari awal hingga akhir, padahal sudah puluhan tahun (1990-2010) tidak pernah mendengarnya.

Baru saja saat browsing, aku nemu link koleksi lagu-lagu qosidah, dan kebetulan berisi grup Nasida Ria yang berasal dari Semarang. Segera saja aku download beberapa lagu tersebut, dan mengingat kembali masa-masa kejayaan lagu tersebut.

Berikut ini koleksi lagu Nasida Ria: http://downloadmp3indonesia.net/mp3-nasida-ria/

Lagu-lagu ini berisi nasehat yang tak lekang oleh zaman. Bahkan beberapa lagu diproduksi ulang oleh gigi (Perdamaian) dan Krisdayanti (Kota Santri).

Kenangan dari grup Nasida Ria adalah kedatangan salah satu vokalis andalannya, Muthoharoh, diundang dalam suatu acara di desa kami. Cewek cantik bersuara merdu tersebut diundang sebagai Qoriah.









FENOMENA LAGU'' TAHUN 2000'' FAKTA DAN REALITA
oleh Isya Anshory Harmaj pada 18 Maret 2010 jam 15:35


By Andy MSE on February 25, 2008


Tahun duaribu tahun harapan, yang penuh tantangan dan mencemaskan
wahai pemuda dan para remaja, ayo siapkan dirimu
“siapkan dirimu, siap ilmu siap iman
siap...............................

Tahun duaribu kerja serba mesin, berjalan berlari menggunakan mesin
manusia tidur berkawan mesin, makan dan minum dilayani mesin
“sungguh mengagumkan tahun duaribu
namun demikian penuh tantangan”

Penduduk makin banyak, sawah ladang menyempit
mencari nafkah smakin sulit
tenaga manusia banyak diganti mesin, pengangguran merajalela

Sawah ditanami gedung dan gudang, hutan ditebang jadi pemukiman
langit suram udara panas akibat pencemaran

“wahai pemuda remaja sambutlah tahun 2000 penuh semangat
dengan bekal ketrampilan, serta ilmu dan iman”

“bekal ilmu dan iman”

(Tahun 2000, Nasida Ria)

Baru-baru ini, saya mendengarkan sebuah lagu qasidah yang sudah sangat jadul. Saya mengenal lagu Tahun 2000 sudah sangat lama, ketika adik bungsu-ku masih usia TK, padahal sekarang dia sudah berkeluarga dengan 2 anak berumur 7 dan 3 tahun.

Lagu itu dinyanyikan oleh Supergrup Qasidah “Nasida Ria” dari Semarang, yang lagu superhits “Perdamaian”nya sempat dinyanyikan ulang oleh GIGI. Saya benar-benar terkesima, dan saya punya keyakinan 100% bahwa penuls lagu qasidah “Tahun 2000″ adalah orang yang jenius dan futuristic.
Bagaimana tidak???
Lagu itu, seingat saya populer sekali di pertengahan dekade 80-an. Artinya kira-kira 15 tahun sebelum tahun 2000. Akan tetapi, penulis sangat cerdas meramalkan apa yang terjadi pada tahun 2000, walaupun kenyataannya sedikit melenceng, mundur kira-kira 5 tahun.

Coba kita cermati bait demi bait lagu itu.

tahun duaribu kerja serba mesin, berjalan berlari menggunakan mesin
manusia tidur berkawan mesin, makan dan minum dilayani mesin

Kalau kita lihat sekarang, pekerjaan kita banyak sekali dibantu mesin. Mulai dari mesin pertukangan, sampai laptop yang setia bersanding membantu kelancaran kerja. Bepergian dengan berjalan kaki atau naik kereta kuda sudah sangat ketinggalan. Bayangkan, hanya dengan Rp. 500.000 saja sudah bisa membawa pulang sebuah sepedamotor baru. Mesin lah yang membawa kita berjalan dan berlari, bahkan dengan kecepatan yang luarbiasa. Tidak hanya itu. Sehari-hari pun kita tidur berkawan mesin, mulai dari kipas angin, air conditioner, handphone yang selalu standby di sisi kita, sampai bangun tidur pun harus diingatkan oleh alarm. Ketika ingin makan dan minum, kulkas, magic com, oven microwave, dan peralatan dapur lain yang serba canggih siap melayani kita sehingga makanan dapat disiapkan lebih cepat, tetap segar dan bergizi.

penduduk makin banyak, sawah ladang menyempit, mencari nafkah smakin sulit
tenaga manusia banyak diganti mesin, pengangguran merajalela

Yang ini lebih jelas, semakin banyak penduduk tentu saja membutuhkan tempat yang semakin banyak, akhirnya karena tak ada tempat lagi, mulailah menggusur sawah dan ladang tanpa menyadari bahwa sawah dan ladang adalah pemasok kebutuhan pangan. Dengan banyaknya industri modern penyedia kebutuhan manusia, kebutuhan tenaga manusia untuk dipekerjakan semakin berkurang karena banyak hal tergantikan oleh mesin yang lebih efisien dan teliti, walaupun mesin tidak dapat berfikir. Tentu saja karena pola padat karya berganti menjadi padat hasil dan padat laba, pengangguran pun merajalela. Benar kan?
sawah ditanami gedung dan gudang, hutan ditebang jadi pemukiman
langit suram udara panas akibat pencemaran

Yang terakhir ini yang paling mengagumkan. Kesadaran penulis “Tahun 2000″ akan kelestarian lingkungan ternyata jauh lebih maju. Lima belas tahun sebelum Y2K, beliau telah menggagas, jauh sebelum dunia sadar dan menggelar Konferensi Pemanasan Global.








NEWS SURYA ONLINE

NASIDA RIA BERNYANYI UNTUK RAKYAT PALESTINA
oleh Isya Anshory Harmaj pada 17 Maret 2010 jam 9:20


Serangan Terbaru Israel Tewaskan 13 Warga Palestina
Kategori: Asia, Berita Terkini | ShareThis


KOTA GAZA | SURYA Online- Jet-jet Israel melancarkan gelombang serangan udara baru di Jalur Gaza Rabu malam, menewaskan sedikitnya 13 warga Palestina, termasuk satu anak laki-laki berusia 13 tahun. Enam orang tewas dalam sejumlah serangan udara dekat tempat perlintasan Sufa, dekat kota Rafah di Gaza selatan.

Tiga warga sipil juga tewas di sebuah rumah di timur Khan Yunis di pusat jalur pantai yang sempit itu. Sementara remaja pria berusia 13 tahun itu tewas dalam serangan di tempat permukiman Sabra di Kota Gaza baratdaya, di bagian utara Jalur Gaza.

Petugas medis mengatakan bahwa dua orang yang diduga gerilyawan tewas dalam pemboman di sekitar kamp pengungsi Jabaliya di Gaza utara dalam serangan yang juga melukai dua kamerawan dari saluran televisi Hamas. Sedikitnya satu orang tewas dalam serangan lainnya, di lingkungan permukiman Tel El-Hawa di Kota Gaza.

Beberapa saksi mengatakan bahwa beberapa orang terluka dalam serangan terpisah Israel di tempat yang sama dan ditujukan ke sebuah kendaraan PBB. Kepala pelayanan darurat Gaza Moawiya Hassanaen mengatakan bahwa korban tewas Palestina seluruhnya sejak dimulainya Operation Cast Lead pada 27 Desember tahun lalu telah meningkat menjadi 1.035 orang.
Konteks di bawah ini merupakan syair lagu group Qasidah Modern NASIDA RIA Semarang album vol.12 yang sempat populer sekitar tahun 1987-an dan diputar di radio-radio,mushola dan masjid,berjudul “Damailah Palestina”.Lagu ini berisikan tentang keprihatinan dan kepedulian kita/seseorang pencipta lagu terhadap kondisi negeri dan rakyat muslim Palestina yang selalu dirundung duka dan masalah peperangan yang tiada henti hingga saat ini di tahun 2009 agar selalu berdamai dengan sesama umat manusia yang berpedoman pada kitab-kitab Samawi yang diturunkan Allah SWT kepada nabi dan rasulNya.Dia adalah Drs.Abu Ali Haidar asal Semarang Jawa Tengah,kreator lagu-lagu qasidah yang bernuansa kritik sosial terhadap gajala yang terjadi dilingkungan sekitarnya.Lagu tersebut……

‘DAMAILAH PALESTINA’

Palestina…negeri para rosul dan para nabi
Tempat suci umat yahudi,nasrani dan umat islam
Jadi lambang kerukunan semua agama samawi
Tapi kini oh…nasibmu sangat menyedihkan
Bumimu panas tersiram darah..
Penuh pembantaian dan penculikan

Wanita dan anak-anak yang tak berdosa
Menjadi korban ganasnya perang
hampir punah..oh..palestina…

Reff;

Damailah hai umat Yahudi ingatlah..petunjuk Allah dalam kitab suci Taurat
Damailah hai umat Nasrani ingatlah..petunjuk Allah dalam kitab suci Injil
Damailah hai umat Islam ingatlah..petunjuk Allah dalam kitab Qur’an….

Kembalilah..pada yang maha esa..
Dunia,jangan adu domba palestina…
Bantulah perdamaian palestina…
Damailah…….3x
Demikian syair lagu yang membuat hati kita sedih,akibat keganasan perang…..semoga Israel dilaknat oleh ALLAh SWT amien….




NEWS Bisnis Indonesia

NASIDA RIA MENCARI BINTANG
oleh Isya Anshory Harmaj pada 17 Maret 2010 jam 1:03

Nasida Ria kisahmu

Posted by: algooth putranto on: August 30, 2009

Regenerasi keluarga personil sulit terjadi

Sering kali kita mendengar, bahkan menyanyikan sendiri lagu Perdamaian yang dipopulerkan group band GIGI, atau lagu Kota Santri yang dilantunkan penyanyi Diva Indonesia Krisdayanti.

Namun, sama sekali tidak disadari, kedua lagu tersebut merupakan rujukan lagu-lagu Kasidah Modern yang sebelumnya telah dipopulerkan oleh group musik Nasida Ria asal Semarang yang hingga kini masih melegendaris.

Group musik Kasidah Modern ini berdiri 1975 di Kauman Semarang yang hingga kini telah menelurkan 34 album berbahasa Indonesia dan puluhan album berbahasa Arab. Album perdana, Alabaladil Mahbub/maha pengasih, diproduksi 1978 di bawah PT Ira Puspita Record yang dipasarkan di dalam dan luar negeri.

Nasida Ria berawal dari grup rebana yang berkat inovasi dan kreasi Mudrikah Zain, grup ini memiliki genre tersendiri, dengan ciri khasnya berupa artis dan musisi pendukung yang terdiri dari wanita berjilbab.

Jika Kasidah Rebana lebih dominan menyanyikan lagu-lagu irama padang pasir, Nasida Ria mencoba mendobrak khasanah musik berirama serupa dengan kreasi yang dipadukan syair dan lagu berbahasa Indonesia.

General Manager Nasida Ria Choliq Zain mengatakan Nasida Ria group musik Kasidah Modern pertama di Indonesia yang menyeruak tren musik pop, dangdut dan aliran Barat.

Dalam line-up album Perdamaian, Nasida Ria, penyanyi jazz, Rien Jamain ikut menyumbang suaranya di tembang Asyik Santai. Warna vokal Rien menyatu dengan tarikan suara Mutoharoh, Nunung, Muchayatun dan Nur’ain.

Terbukti grup musik Kasidah Modern ini mampu menembus hiruk pikuk berbagai aliran musik, dengan sentuhan dan kreasi yang mengkombinasikan irama padang pasir ini menjadi disukai masyarakat.

Nasida Ria tercatat telah menyambangi beribu tempat untuk mengisi acara, baik di dalam maupun di luar negeri, dengan sejumlah lagunya yang sudah tidak asing di telinga penggemar seperti Shalawat Badar, Kaya Miskin Bahagia, Damailah Palestina, Magadir, dan Nabi Muhammad Insan Pilihan.

Kiprah Nasida Ria antara lain mengisi Paket Acara Hari Raya Idhul Fitri di TMII (Taman Mini Indonesia Indah) Jakarta setiap tahun, Tour Show Silaturrahmi Djarum 76 di 16 Kota Jateng 2001-2004.

Selain itu, group musik ini juga pernah tampil dalam Islamic Art and Cultural Perfomance di Batam Kepulauan Riau [2004] dan Isro Miroj di Tanjung Pinang [2006], serta berbagai tempat di pelosok tanah air, baik undangan hajatan maupun acara resmi berbagai lembaga.

Sementara di luar negeri, Nasida Ria juga dikenal, pernah tampil memenuhi undangan Kerajaan Malaysia pada peringatan 1 Muharam 1988, Berlin Maret 1994, undangan Haus de Kulturen derWelt [Lembaga Kebudayaan Jerman] dalam paket Die Garten des Islam [Pameran Kesenian Islam Dunia].

Masih di Jerman Juli 1996, group ini tampil dalam festifal Heimatklange ‘96 ‘Sinbad Travels’ di delapan kota seperti Berlin, Reclinghousen dan Dusseldof, atas undangan Cultural Departement of The Senat of Berlin and Tempodrom, SFB, ORB, European Forum of Worldwide Music Festival.

”Atas kiprah dan pretasi yang telah ditorehkan itu, Nasida Ria banyak mendapat penghargaan, seperti Pengemban Budaya Islam dari PWI Pusat Jakarta [1989], Penghargaan Seni dari PWI Jateng [1992] dan Anugrah Keteladanan 2004 dari PRPP Jateng [2004],” ujar Choliq kepada Bisnis.

Regenerasi Nasida Ria

Namun, gema penggebrak aliran musik Kasidah Modern ini tampaknya terus meredup dan hanya muncul setiap menjelang Lebaran yang mungkin akibat dari kurangnya promosi.

Choliq menyatakan beberapa tahun belakangan ini, publikasi Nasida Ria memang tidak begitu gencar, tetapi mereka masih tetap memiliki penggemar setia, yang terbukti dengan masih banyaknya tawaran manggung, baik di dalam maupun luar kota.

Saat ini, dia menambahkan Reborn [lahir kembali] merupakan misi Nasida Ria dengan upaya regenerasi yang ditargetkan dalam tahun ini, melalui penyelenggaraan ‘Nasida Ria Mencari Bintang’ yang diharapkan dapat menggandeng sponsor.

Upaya meregenerasi group musik Khasidah Modern ini cenderung membidik anak tidak mampu [yatim] dan belum memiliki basik musik, tetapi memiliki talenta suara Ngaji Tilawah Qiroah.

“Biasanya kami mengambil anak-anak yatim lulusan SD/SMP untuk disekolahkan dan dididik secara intensif minimal satu tahun. Semua musisi dan pemain pembantu dalam group musik ini berawal dari sana, dan memiliki loyalitas tinggi,” jelasnya.

Selain regenasi, Choliq mengungkapkan pihaknya juga ingin menyegarkan ingatan para penggemar lama dengan lagu-lagu hit kami dulu dan membuktikan pada khalayak group ini masih eksis.

Pihak manajemen juga berencana untuk membukukan kisah perjalanan Nasida Ria sebagai satu kelompok kasidah modern tertua di Indonesia, sekaligus mencatatkannya di Museum Rekor Indonesia (Muri).

Saat ini, Nasida Ria juga telah memiliki group musik pendamping yang dimotori anak-anak M Zain, yaitu Choliq Zain [anak kedua] dengan grupnya El Muna, Hadziq [anak pertama] dengan groupnya Nidaria dan Felasufah [anak keempat] dengan groupnya El Hawa.

Oleh Arief Novianto
Kontributor Bisnis Indonesia





NEWS HARIAN MERDEKA

oleh Isya Anshory Harmaj pada 17 Maret 2010 jam 0:46

Grup Kasidah Nasida Ria Tetap Eksis

''Yu, Minta Magadir dong!'' teriak penonton panggung hiburan PRPP yang menyaksikan pementasan Nasida Ria, belum lama ini. Walaupun hanya ditonton puluhan orang, namun hal itu tidak menyurutkan kesungguhan grup musik kasidah moderen itu untuk menghibur penggemarnya.

Kurangnya promosi mungkin menjadi penyebab sepinya pentas Nasida Ria. Padahal, penggunjung PRPP saat itu tidak bisa dibilang sepi. Hal itu terbukti dari penuhnya tempat parkir mobil dan motor.

Tampil selama 2 jam, grup kasidah moderen itu memperdengarkan lagu-lagu yang sudah tidak asing lagi di telinga penggemarnya, seperti ''Shalawat Badar'', ''Kaya Miskin Bahagia'', ''Damailah Palestina'', ''Magadir'', dan ''Nabi Muhammad Insan Pilihan''.

Nasida Ria berdiri tahun 1975 di Kauman, Semarang Tengah. Grup ini telah menelurkan 34 album berbahasa Indonesia dan puluhan album berbahasa Arab. Album perdana, Alabaladil Mahbub/maha pengasih, diproduksi tahun 1978. Di bawah naungan PT Ira Puspita Record yang beralamatkan di Jl Kijang Semarang, album-album tersebut dipasarkan secara nasional.

Selain itu, album mereka juga dipasarakan di luar negeri. Grup yang bermarkas di Jl Kauman Mustaram 58 Semarang itu terakhir merekam lagu-lagunya setahun yang lalu. Sampai Februari 2004, grup itu telah menerima berbagai penghargaan, antara lain Penghargaan Pengemban Budaya Islam oleh PWI Pusat tahun 1989.

Pentas di luar negeri

Kelompok yang membuka kantor cabang di Jl Raya Tugu 58 itu beberapa kali pentas di luar negeri. Tahun 1988, mereka diundang manggung di Kerajaan Malaysia saat peringatan 1 Muraram. Enam tahun kemudian, sebuah lembaga kebudayaan Jerman Haus der Kulturen der Welt mengundang mereka konser di Berlin untuk memeriahkan Die Garten des Islam (Pameran Kesenian Islam Dunia).

Juli 1996, atas undangan Cultural Departement of The Senat of Berlin and Tempodrom, SFB, ORB, European Forum of Worldwide Music Festival mereka berangkat lagi ke Jerman dalam rangka Festival Heimatklange '96 ''Sinbad Travels''.

Pada saat itu mereka tidak hanya pentas di Berlin, namun juga di kota-kota lain seperti Reclinghausen, Mulheim, Dusseldorf. Media setempat seperti WAZ, Berliner Morgenpost juga meliput acara tersebut.

Sudah beberapa tahun belakangan ini, publikasi Nasida Ria tidak begitu gencar. Namun, mereka masih tetap memiliki penggemar setia. Hal itu terbukti dengan masih banyaknya tawaran manggung, baik di dalam maupun luar kota.

Reborn atau lahir kembali. Itulah misi Nasida Ria saat ini. ''Kami ingin me-refresh memori atau menyegarkan ingatan para penggemar lama dengan lagu-lagu hits kami dulu dan membuktikan pada khalayak bahwa kami masih eksis,'' kata Choliq, sang manajer.

Pihak manajemen akan membukukan kisah perjalanan Nasida Ria sebagai salah satu kelompok kasidah modern tertua di Indonesia. Buku itu diharapkan selesai tahun depan, bertepatan dengan ulang tahun ke-30 Nasida Ria, dan diharapkan bisa tercatat di Museum Rekor Indonesia (Muri). (Ida Nursanti-63)